Puasa hari ketiga di kos baru ini ada hal baru. Sistem pencernaan Homo Sapiens ku mengalami gejala unik saat akan makan sahur. Berawal dari rasa mules di bagian perut (kalo kepala mumet), aku bingung mau diapain. Dua kali didorong dengan sesmangat boker tidak juga terlampiaskan. Perut ini ternyata juga punya mood, meski sudah melihat lubang jamban masih aja tetep ngambek. Waaa! What must I do? Pengin dikuras sekalian pake dulcolax, tapi mana ada jam 3 an begini toko obat yang buka. Yah terpaksa ditahan sekuat-kuatnya sampe makan sahur. Nah inilah uniknya. Hari ini sebagai menu sisipan dari menu-menu stagnan hari selanjutnya, maka ku beralih ke menu kebanggaan bangsa Cina, yang sudah sedemikian lama melegenda bak Kaisar Dinasti Ming yang mampu membangun tembok besar Cina, yup itulah Cap Cay. Saudara jauh banget dari Fuyung Hay. Porsi kali sangatlah tidak berimbang kesebelasan nasi menguasai ¾ lapangan pertempuran dengan Cap Cay. Tentunya Cap Cay tidak tinggal diam, dia membawa serta Telurize Dadarano dan Teumpe Gorenz. Satu persatu pemain mulai kewalahan dimakan buto (karena besarnya porsi yang diberikan) sebagai algojo dalam permainan ini. Cap cay tampak ogah-ogahan bergaul dengan nasi. Sikapnya yang tak mau mengalah membuatnya habis terlebih dahulu dibanding dengan nasi, nasib sama juga terjadi pada Telurize Dadarano dan Teumpe Gorenz. Pertarungan berakhir dengan kemenangan nasi yang tak habis dimakan buto karena ndak ada lawannya. Yah si buto ”gue” sudah merasa cukup dengan porsi kelas kakap ini. Jelas ndak cukup, perutnya kecil makannya bejibun. ”Ampuuuuun, gue kagak mau lagi makan porsi segini. It’s hard for me!”. Hari ini pulalah pertama kali makan nasi di kamar pake sendok. Trus sebelumnya pake apa donk? Ya pasti menggunakan jari-jemari pemberian Allah SWT yang mampu memelintir, menarik, menggengam, mencubit, memukul dan membunuh orang-orang yang tak tahan geli. Alhamdulillah ya Allah, kau berikan aku kesempurnaan jasmani dibnandingkan dengan orang-orang yang tidak memiliki kelengkapan fisik. Gue pinjem sendok nasi dari warung sebelah. ” Mak bisa pinjem sendok ndak?” pintaku lirih, takut dikira mau ngambilin sendok Emak trus dijadikan senjata tumpul di kampus.“Le, jupukno sendok’e!“ bilang emak pada putranya yang masih kelas 3 SMA itu. Alhasil visi mulia untuk makan dengan sendok telah berhasil, tinggal menyambut nasi dengan sendok pinjaman. Dasar orang ndak punya harga diri masak makan aja harus pinjem sendok, Ndak Modal. Setelah selesai makan, sistem pencernaan Homo Sapiensku memberikan sinyal-sinyal kuat ke otot perut. Sinyal itu kemudian ditransmisikan lagi menuju otot dubur yang diterjemahkan dalam tanda bahaya. BOKER! BOKER! BOKER! Dengan sirine meraung-raung berkali-kali sampai memekakkan telinga dan lampu merah menyala kedap-kedip persis tanda bahaya di film-film. Ini sinyal paling jelas kurasakan dari sinyal sebelumnya, ndak seperti sinyal salah satu operator yang menjual pulsa dan sinyal terpisah dengan slogan kebesaran Mau!. Akhirnya perjuangan bokerpun terlaksana dengan sukses. Rencana boker yang tak kunjung berhasil telah dituntaskan hari ini. Selanjutnya tugas akan diserahkan pada komandan selanjutnya untuk melaksanakan tugas berikutnya. Siap kapten! Ekspresi tak terkatakan dari perutku. (Saturday, September 15th 2007) .